-->

Wednesday, October 15, 2014

Tugas Jurnal ETIKA BISNIS

JURNAL 1
NAMA            : Ardiana Peni Rahmawati

JUDUL            : ANALISIS PENGARUH FAKTOR INTERNAL DAN MORALITAS
 MANAJEMEN TERHADAP KECENDERUNGAN KECURANGAN AKUNTANSI

TAHUN           : 2007

TEMPAT         : Studi Pada Dinas Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Semarang

Kata kunci       : Faktor internal, Moralitas dan Kecenderungan Kecurangan Akuntansi

                         
Hasil penelitian didapatkan bahwa keefektifan pengendalian internal berpengaruh negatif terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi, sedangkan kesesuaian kompensasi, ketaatan aturan akuntansi, asimetri informasi dan moralitas manajemen tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. Hasil ini mendukung teori agensi bahwa untuk mengawasi agen agar tidak melakukan kecurangan diperlukan pengendalian internal yang efektif, namun pemberian kompensasi ternyata tidak menurunkan kecederungan kecurangan akuntansi. Hal ini mungkin disebabkan karena pejabat pemerintahan memberikan kompensasi yang tidak sesuai dengan keinginan dan kinerja para pegawainya. Selain itu asimetri informasi yang terjadi antara prinsipal dan agen belum tentu memicu agen untuk melakukan kecurangan akuntansi, dan tingkat moral yang dimiliki oleh setiap manajemen belum tentu dapat meminimalisir kecurangan tersebut. Hasil penelitian ini juga mengungkapkan bahwa laporan keuangan yang disusun sesuai dengan aturan yang berlaku belum tentu dapat menurunkan kecurangan akuntansi. Dari keseluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa model teoritis faktor penentu kecurangan akuntansi, yang terdiri dari keefektifan pengendalian internal, kesesuaian kompensasi, ketaatan aturan akuntansi, asimetri informasi, dan moralitas manajemen, mungkin tidak cocok diterapkan pada Dinas Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Kota Semarang, sehingga hasil yang didapat tidak konsisten.





JURNAL 2
NAMA            : Resti Yulistria

JUDUL            : PENGARUH ETIKA BISNIS DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL                PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA ORGANISASI(Penelitian Pada Pegawai                         PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Cianjur)

TAHUN            : 2007

TEMPAT         : PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Cianjur


Kata kunci        : Etika Bisnis, Kinerja Organisasi, Tanggung Jawab Sosial Perusahaan


Metode penelitian yang digunakan adalah Explanatory Survey, dengan teknik pengumpulan data kuesioner skala lima kategori Likert. Sumber data diperoleh dari populasi pegawai PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk Kantor Cabang Cianjur. Teknik pengolahan data yang digunakan adalah regresi. Teknik ini digunakan untuk mengukur pengaruh yang disebabkan variabel bebas terhadap variabel terikat.Variabel etika bisnis diukur melalui indikator otonomi, keadilan, kejujuran, saling menguntungkan, dan integritas moral, dan variabel tanggung jawab sosial perusahaan diukur melalui indikator market actions, mandated actions, dan voluntary actions. Kedua variabel bebas tersebut diukur berdasarkan persepsi pegawai. Adapun variabel kinerja organisasi diukur melalui indikator perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran yang diukur berdasarkan kondisi riil tingkat kinerja organisasi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Cianjur).
Hasil penelitian secara deskriptif menunjukkan bahwa etika bisnis PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Cianjur berada pada kategori tinggi sedangkan untuk tanggung jawab sosial perusahaan dan tingkat kinerja organisasi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Cianjur berada pada kategori cukup. Oleh karena itu, penelitian ini dapat memberikan manfaat berupa perbaikan kinerja organisasi di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Cianjur untuk selanjutnya dijadikan dasar dalam menganalisis tingkat kinerja organisasinya.








JURNAL 3
NAMA              : Syahriah Sari
JUDUL  : PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) TERHADAP KEPUASAN NASABAH DAN LOYALITAS NASABAH PADA PT. BANK DANAMON INDONESIA, TBK  MAKASSAR
          
TAHUN           : 2008

TEMPAT         : PT. BANK DANAMON INDONESIA, TBK  MAKASSAR 
         
Kata kunci        : corporate social responsibility (CSR), kepuasan nasabah, loyalitas nasabah.


            Penelitian ini bertujuan menguji (1) pengaruh corporate social responsibliity (CSR) terhadap kepuasan nasabah PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Makassar (2) pengaruh corporate social responsibility, (CSR) terhadap loyalitas nasabah PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Makassar, (3) pengaruh kepuasan nasabah terhadap loyalitas nasabah PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Makassar. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel nonprobability sampling dengan sampel sebanyak 200 responden. Penelitian ini merupakan kombinasi penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data dianalisis dengan menggunakan pemodelan persamaan struktural (structural equation modelling/SEM). Hasil menunjukkan bahwa (1) corporate social responsibility berpengaruh signifikan terhadap kepuasan nasabah, (2) corporate social responsibility berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah, (3) kepuasan nasabah berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah.


   


Tuesday, June 3, 2014

Tugas Softskill : Puisi



AKU ,,,
Karya : Chairil Anwar

Resensi Buku : Kebangkitan Peran Budaya. Bagaimana Nilai-Nilai Membentuk Kemajuan Manusia


Budaya atau kebudayaan seringkali diperbincangkan dalam pengertian yang beragam dalam lingkup pengetahuan, prilaku dan benda-benda (artefak).  Ada ahli  yang mengartikan kebudayaan hanya sebagai pengetahuan, namun ahli lainnya mengartikan dari gabungan dua diantaranya atau ketiganya sekaligus.  Sementara, pemerintah dan masyarakat secara umum lebih mengartikan kebudayaan sebagai rangkaian upacara, kesenian  tradisional. Dalam konteks kebijakan, kebudayaan juga sering disebut seperti kebudayaan nasional ,kebudayaan daerah dengan pengertian yang kaku dalam bentuk objek yang perlu dilestarikan sehingga selalu berada di posisi yang tersubordinasi oleh faktor lainnya seperti ekonomi,  politik dan globalisasi.

Sehingga akan sangat menarik, memperoleh cara pandang yang tidak hanya berbeda tetapi mendekonstruksi cara pemikiran dominan yang berkembang selama ini. Cara pandang   itu adalah menempatkan  budaya sebagai  peran utama yang membentuk kemajuan suatu masyarakat yang disebut sebagai kebangkitan peran budaya.  Samuel P. Huntington, salah seorang ilmuwan terkemuka dunia,  diantaranya yang memberikan penghormatan yang tinggi terhadap peran budaya, ketika membandingkan Ghana dan Korea Selatan, yang dilanjutkan dengan pertanyaan ,”Bagaimana menjelaskan perbedaan yang luar biasa dalam perkembangan ini? Lalu dijawabnya sendiri,”Tidak diragukan lagi banyak faktor yang berperan, tetapi menurut hemat saya, budaya memainkan peran besar. Orang Korea Selatan menghargai hidup hemat, investasi, kerja keras, pendidikan, organisasi, dan disiplin. Orang Ghana mempunyai nilai-nilai yang berbeda. Pendeknya, budaya mempunyai andil”.

Huntington mengkisahkan, “Di awal tahun 1990-an, secara kebetulan saya menjumpai data ekonomi Ghana dan Korea Selatan tahun 1960-an awal.   Saya takjub melihat betapa miripnya ekonomi dua negara ini pada waktu itu. Dua negara ini, kira-kira, memiliki tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita yang setara; porsi ekonomi mereka yang serupa antara produk, manufakturing, dan jasa primer; serta berlimpahnya ekspor produk primer, dengan Korea Selatan memproduksi sejumlah kecil barang manufaktur. Mereka juga menerima bantuan ekonomi dalam jumlah yang seimbang. Tiga puluh tahun kemudian, Korea Selatan menjadi raksasa industri ekonomi terbesar nomor ke-14 dunia, perusahaan-perusahaan multinasional, ekspor mobil, alat elektronik, dan barang canggih hasil pabrik lainnya dalam jumlah besar, serta pendapatan perkapita yang mendekati Yunani (saat ini sudah jauh melampaui Yunani, red.). Tidak ada perubahan seperti ini di Ghana, yang PDB per kapitanya sekarang sekitar seperlimabelas dari Korea Selatan”.(p.xiii).

Kisah tersebut, dituliskannya di pengantar buku yang berjudul,”Kebangkitan Peran Budaya. Bagaimana Nilai-Nilai Membentuk Kemajuan Manusia” dimana beliau dan Lawrence E. Harisson yang menjadi editornya dari puluhan tulisan  ilmuwan sosial ternama di dunia dari antropologi, sosiologi, politik dan ekonomi . Bahan-bahan yang dijadikan muatan dalam buku ini merupakan hasil kajian yang dilakukan oleh Harvard Academy for International and Area Studies yang mengkaji hubungan antara budaya dan perkembangan politik, ekonomi dan sosial yang selanjutnya dilakukan simposium,”Cultural Values and Human Progress yang dilaksanakan di American Academy of Arts and Sciences di Cambridge, Massachussets, tanggal 23 – 25 April 1999. Kemudian diterbitkan setahun berikutnya dengan judul : Culture Matters : How Values Shape Human Progress yang diterbitkan oleh Basic Books, New York. Beberapa tahun kemudian  terjemahannya di terbitkan pertama kali oleh LP3ES Indonesia, September 2006.

Dalam buku ini, budaya dilihat dalam konteks dua hal utama. Pertama sebagai faktor determinan atau faktor penjelas yang memberikan pengaruh atau perannya terhadap faktor-faktor lainnya seperti ekonomi, politik, gender, korupsi hinga hubungan mayoritas dan minoritas di Amerika. Kedua, budaya dilihat sebagai faktor yang tidak berdiri sendiri. Misalnya bagaimana tindakan politik atau yang lain mengubah atau menghilangkan hambatan budaya untuk maju?

Sehingga dalam sudut pandang seperti yang disebutkan di atas, budaya diartikan tidak dalam defenisi yang sangat luas, seperti yang banyak dikenal di dalam defenisi kebudayaan yang dibuat para ahli antropologi, namun lebih spesifik dan ruang lingkup yang yang tegas. Hal ini terkait dengan pertanyaan besar yang diajukan yakni sejauh mana faktor-faktor budaya membentuk perkembangan ekonomi dan politik? Jika budaya memang memiliki andil, bagaimana hambatan budaya terhadap perkembangan ekonomi dan politik dapat dihilangkan atau diubah untuk memfasilitasi kemajuan?

Dalam kebutuhan untuk menjawab pertanyaan itu, maka kemajuan manusia diartikan sebagai gerakan menuju perkembangan ekonomi dan kesejahteraan, keadilan sosial-ekonomi, dan demokrasi politik. Terkait dengan budaya, Huntington memberikan defenisi budaya dengan lingkup yang lebih khusus seperti nilai-nilai, sikap, kepercayaan, orientasi dan paraduga.

“Istilah “budaya” tentu saja, mempunyai banyak arti dalam disiplin ilmu yang berbeda dan konteks yang berbeda pula. Istilah ini sering digunakan untuk menyebut produk intelektual, musik, artistik, dan sastra dari sebuah masyarakat, atau yang disebut “budaya tinggi”. Para Antropolog, mungkin yang paling menonjol adalah Cliffort Geertz, telah menekankan budaya sebagai “deskripsi tebal” dan menggunakannya untuk menyebut seluruh cara hidup dari sebuah masyarakat : nilai, praktik, simbol, lembaga, dan hubungan antar manusianya. Namun, di dalam buku ini, kami tertarik pada bagaimana budaya mempengaruhi perkembangan suatau masyarakat; jika budaya meliputi apa saja, budaya tidak menjelaskan apa pun. Maka, kami mendefenisikan budaya dalam istilah yang benar-benar subjektif seperti nilai-nilai, sikap, kepercayan, orientasi, dan praduga mendasar yang lazim di antara orang-orang dalam suatu masyarakat. Buku ini mengkaji sejauh mana budaya dalam pengertian yang subjektif ini bisa mempengaruhi cara-cara masyarakat untuk berhasil atau gagal dalam mencapai kemajuan perkembangan ekonomi dan demokrasi politik”. (p.xvi).

Buku ini terdiri tujuh bagian. Bagian I membahas tentang keterkaitan budaya dan pembangunan ekonomi dengan memberikan fakta budaya sebagai faktor penentu dalam pembangunan ekonomi dan  kemakmuran. Bagian II membahas tentang perkembangan budaya dan politik, seperti memberikan gambaran tentang hubungan budaya dengan demokrasi, korupsi dan pasar. Bagian III tentang Debat Antropologis, diantaranya membahas kepercayaan dan praktik tradisional – apakah sebagian lebih baik daripada yang lainnya? Bagian IV membahas budaya dan gender dilihat dari perspektif hak asasi manusia dan kesetaraan gender. Bagian V menjelaskan kasus kaum minoritas Amerika untuk menunjukkan bagaimana budaya berperan. Dua bagian terakhir terkait dengan krisis asia dan mempromosikan perubahan. Di bagian terakhir ini, diantaranya memberikan arahan untuk melakukan upaya mengubah pemikiran sebuah bangsa untuk memajukan perubahan budaya yang progessif. Dalam konteks ini, harus ada upaya yang kuat untuk mempengaruhi kebijakan untuk memberikan peran besar terhadap budaya dalam setiap pengambilan kebijakan.  Secara khusus Lawrence E. Harrison mengutip pertanyaan menarik dari Robert Klitgaard terkait dengan kebijakan untuk dijadikan refleksi, ”Jika budaya itu penting dan orang-orang telah mempelajari budaya selama seabad atau lebih, mengapa kita tidak mempunyai teori-teori yang dikembangkan dengan benar, petunjuk-petunjuk yang praktis, hubungan profesional yang dekat antara orang yang belajar budaya dan yang membuat serta mengatur perkembangan kebijakan?”.

Dalam buku ini,juga sudah diberikan gambaran kajian  budaya  yang selayaknya dilakukan  agar mampu memberikan  manfaat paraktis (terapan) dalam pembangunan, yakni :

Sebuah tiplogi nilai/sikap: Tujuannya adalah (1) untuk mengenali nilai-nilai dan sikap yang meningkatkan kemajuan, termasuk penilaian prioritas yang melekat pada masing-masing, dan nilai dan sikap yang menghalangi kemajuan; dan (2) untuk menentukan nilai-nilai/sikap positif dan negatif mana yang mempengaruhi evolusi lembaga-lembaga politik yang demokratis, pembangunan ekonomi, dan keadilan sosial; dan membuat peringkat nilai dan sikap tersebut.
Hubungan antara budaya dan pembangunan: Tujuannya adalah (1) mengembangkan pemahaman yang berguna dan operasional akan kekuatan/pelaku yang dapat mempercepat pembangunan ketika berhadapan dengan nilai-nilai dan sikap yang tidak mendukung pembangunan; (2) Melacak dampak terhadap nilai-nilai dan sikap tradisional ketika pembangunan terjadi sebagai konsekuensi dari kekuatan/pelaku ini; (3) membahas persoalan apakah lembaga-lembaga demokrasi dapat dikukuhkan dan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial terjaga sekiranya nilai-nilai dan sikap tradisional tidak berubah secara signifikan.
Hubungan antara nilai-nilai dan sikap, kebijakan, dan lembaga: Tujuananya adalah (1) menilai sejauh mana sebuah kebijakan dan lembaga mencerminkan nilai-nilai dan sikap, (2) Mengerti lebih baik apa yang mungkin terjadi ketika nilai-nilai dan sikap tidak cocok dengan kebijakan lembaga, dan (3) menetapkan sejauh mana kebijakan dan lembaga dapat mengubah nilai-nilai dan sikap.
Penyebaran budaya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pemahaman mengenai faktor-faktor utama dalam penyebaran nilai/sikap, misalnya, praktik pengasuhan anak, sekolah, gereja, media, kawan sebaya, tempat kerja dan “pengiriman uang sosial” dari para migran ke negara-negara asal. Kita perlu tahu (1) yang mana dari faktor-faktor itu yang sedang paling kuat secara umum sebagaimana halnya  yang paling kuat di wilayah geografi dan budaya yang berbeda di dunia; (2) bagaimana setiap faktor dapat menyumbang untuk perubahan nilai dan sikap yang progressif; dan (3) peran apa yang mungkin pemerintah mainkan dalam ihwal perubahan nilai dan sikap.
Pengukuran nilai/sikap: Tujuannya adalah memperluas jangkauan sistem internasional untuk mengukur perubahan nilai dan sikap.
Menilai inisiatif-inisiatif perubahan budaya yang sudah berjalan.

Enam point di atas sebenarnya merupakan agenda Harvard Academy for International and Area Studies sekitar  sepuluh tahun yang lalu, namun menurut hemat saya masih relevan untuk kondisi Indonesia saat ini. Dengan orientasi yang kuat di bidang terapan, saya kira Antropologi dan Antropolog akan memiliki modal yang lebih dari cukup untuk mampu mempengaruhi kebijakan dan menjadi mitra strategis bagi pengambil kebijakan di negeri ini. Sehingga pertanyaan kritis dari Robert Klitgaard di atas bisa dijawab dengan baik.








Wednesday, April 2, 2014

Biografi Leonardo Da Vinci


Leonardo da Vinci (15 April 1452 – 2 Mei 1519) adalah arsitek, musisi, penulis, pematung, dan pelukis Renaisans Italia. Ia digambarkan sebagai arketipe "manusia renaisans" dan sebagai jenius universal. Leonardo terkenal karena lukisannya yang piawai, seperti Jamuan Terakhir dan Mona Lisa. Ia juga dikenal karena mendesain banyak ciptaan yang mengantisipasi teknologi modern tetapi jarang dibuat semasa hidupnya, sebagai contoh ide-idenya tentang tank dan mobil yang dituangkannya lewat gambar-gambar dwiwarna.Selain itu, ia juga turut memajukan ilmu anatomi, astronomi, dan teknik sipil bahkan juga kuliner. 

Latar Belakang 

Leonardo lahir pada tahun 1452 di kota Vinci, propinsi Firenze, Italia anak dari Ser Piero Da Vinci dan Caterina, jadi nama lengkapnya yaitu Leonardo di Ser Piero da Vinci yang berarti Leonardo putra Ser Piero asal kota Vinci. 

Pada tahun 1476 tertuduh dengan kasus homoseksual dengan seorang model laki-laki berusia belasan tahun yang bernama Jacopo Saltarelli. Sehingga beberapa tahun itu Leonardo selalu berada di bawah pengawasan yang berwenang [1]. 

Pada usia belia, beliau sudah belajar melukis dengan Andrea del Verrocchio dan mulai melukis di Firenze.Ada kabar mengisahkan Verrochio menyatakan pensiun melukis setelah menyaksikan bahwa lukisan muridnya yang satu ini lebih bagus dari lukisannya sendiri. Selain menjadi pelukis Leonardo juga sanggup menunjukkan kemampuannya di bidang yang lain. Pada tahun 1481 Leonardo pindah ke Milan untuk bekerja dengan Adipati(Duke) di sana.Hasil karyanya selama di Milan yang paling termashur adalah Kuda Sforza yang dikerjakannya selama kurang lebih 11 tahun. Namun di situ ia tidak hanya melukis dan membuat patung saja, melainkan juga mengubah jalan-jalan sungai dan membangun kanal-kanal, serta menghibur Duke dengan memainkan lut dan bernyanyi. Lalu ia bekerja untuk Raja Louis XII dari Perancis di Milan dan untuk Paus Leo X di Roma 

Sementara itu ia membantu Raphael dan Michaelangeo dalam merancang katedral Santo Petrus.Dalam hidupnya Leonardo sangat tertarik pada ilmu pengetahuan. Ia mulai mempelajari burung terbang dan mulai merancang mesin terbang. Pemikirannya itu terdapat dalam buku catatanya sebanyak 7.000 halaman. Didalam buku itu juga terdapat sketsa tentang studi tubuh manusia. Pada zaman itu, anatomi tubuh manusia tak lebih dari sekadar kira-kira karena siapapun dilarang keras membedah jenazah. Dengan kenekatannya mencuri-curi kesempatan membedah-bedah tubuh orang mati, di kemudian hari tindakan yang tak lazim di zamannya ini memberikan kontribusi yang sangat besar bagi dunia kedokteran. 
Mahakarya Terbesar dan Tak Ternilai Karya Leonardo Da Vinci (MONALISA)

Mahakaryanya, Jamuan Terakhir(The Last Supper) pada tahun 1495 sampai tahun 1497 yang dilukis pada dinding biara Santa Maria di Milan, kini telah rusak akibat dimakan waktu. Lukisan terkenal lainnya adalah Mona Lisa yang kini terdapat di musium Louvre Paris. Sebuah spekulasi yang beredar tentang siapa sesungguhnya Mona Lisa antara lain menyatakan bahwa citra perempuan tersebut merupakan hasil rekaan wajah Da Vinci sendiri. Spekulasi yang lain menyatakan bahwa perempuan tersebut memang pernah ada, seorang istri pedagang. 

Leonardo da Vinci wafat di Clos Lucé, Perancis pada tanggal 2 Mei 1519, dan dimakamkan di Kapel St. Hubert di kastel Amboise, Perancis. 

Setelah wafatnya, sangat kuat ditengarai bahwa beliau pernah memegang peranan sebagai orang terkuat di sebuah organisasi rahasia bernama Priory of Sion yang berlaskarkan Knights Templar. Apakah
organisasi rahasia ini? Banyak fakta mengarahkan pada suatu dugaan bahwa Priory of Sion merupakan sebuah organisasi yang menjaga ketat-ketat rahasia sejarah kristiani menurut versi yang berbeda dari kitab Injil yang beredar di masyarakat. Yang dirahasiakan adalah mengenai siapa mesias yang sesungguhnya dan kemungkinan Yesus tidak menjalankan hukum selibat. Dalam versi yang sempat menimbulkan kontroversi ini diyakini bahwa Mesias yang sesungguhnya adalah Santo Yohanes Pembaptis, hal tersebut tersirat dari kekerapan Da Vinci melukis Sang Santo dalam posisi telunjuk menuding ke atas sebagai simbolisasi 'Putra Allah'. Versi yang tak kalah mengagetkannya adalah kemungkinan Maria Magdalena si bekas perempuan sundal diperistri oleh Yesus. 

Kegeniusan Leonardo terlihat dari banyaknya bidang yang ia kuasai. Ia adalah pelukis, pematung, penemu, peneliti, ahli per­me­sin­an, ahli anatomi, matematika, ahli tumbuh-tumbuhan dan binatang, optik, aerodinamik, bahkan pemusik handal. Ia belajar tanpa ada batasnya. Tentu saja ini tidak berat karena ia tidak bekerja keras, ia hanya “bersenang-senang”. Untuk melukis manusia, ia secara khusus mem­pelajari anatomi tubuh manusia. 

Leonardo mungkin adalah pem­belajar paling gila. Saat mempelajari anatomi, ia suka pergi malam-malam, membongkar kuburan, dan mengambil mayat orang tidak dikenal yang sudah hampir busuk dan mem­bedahnya. Kadang ia melakukannya di rumah sakit yang memberinya izin. Ia benar-benar ingin tahu mengapa tubuh manusia berbentuk seperti itu. Dengan begitu, ia bisa makin detail dalam membuat lukisannya. 

"I have offended God and mankind 
because my work didn't reach the quality it should have." 
Leonardo da Vinci 

BAGAIMANA CARA MENCIPTAKAN SEBUAH MASTERPIECE ? 

Leonardo tidak ingin membuat sebuah karya, tetapi ia ingin menciptakan sebuah Mahakarya, A Masterpiece. Sebuah karya seni dengan komposisi warna-warni yang begitu indah dengan detail yang nyaris sempurna seperti aslinya, sehingga semua yang melihatnya akan terpesona dan tersentuh hatinya. Tapi itu bukan yang utama.. 

Karyanya adalah persembahannya yang setinggi-tingginya kepada Tuhan. Leonardo ingin membuat karya yang begitu indahnya, sehingga bahkan Tuhanpun akan senang hati melihatnya. Sepanjang hidupnya tidak kurang 30 mayat yang ia bedah dan pelajari. Memang menjijikkan, tetapi jijik pun sebenarnya bukan masalah yang besar dan penting diban­ding­kan keagungan karyanya dan juga kemajuan ilmu anatomi manusia. 

Sejak kecil, ia suka membaca di perpustakaan milik ayahnya di Florence. Saat dewasa, Leonardo mampu memiliki perpustakaan sendiri dengan banyak koleksi buku termasuk dari Dante dan Petrarch. Subjeknya juga beragam mulai dari matematika, anatomi, pengobatan, hingga buku-buku tentang peperangan. Dari sana pengetahuannya jadi makin luas dan tajam. Leonardo juga seorang visioner. Ia misalnya telah membayangkan mesin terbang seperti helikopter, kendaraan dengan pelindung besi (seperti tank), atau kapal yang bisa bergerak di bawah laut. Ia bahkan mendesain manusia mekanik yang dikenal sebagai Robot Leonardo, rancangan “robot” yang sering dianggap robot pertama dalam sejarah. 

Akan tetapi, karya terbesarnya tentu saja adalah Monalisa. Lukisan wanita cantik ini merupakan puncak dari segala ilmunya tentang pewarnaan, cahaya, perspektif, dan—tidak lupa—anatomi tubuh manusia. 

Pada lukisan itu, ia menggunakan teknik melukis yang sangat tinggi dan sulit ditiru, sfumato, sebuah teknik yang membuat lukisan terlihat seperti berkabut, tidak fokus, dengan transisi antar-warna yang luar biasa lembut dan halus. Monalisa terlihat begitu hidup, bahkan senyumannya pun mengundang penasaran dari semua orang yang melihatnya hingga sekarang. 

Mengapa Monalisa tersenyum? Mengapa ia terlihat begitu bahagia? Tak seorang pun bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti. Lukisan lainnya yang sangat berharga adalah "Perjamuan Terakhir", The Last Supper, yang secara dramatis melukis­kan makan malam terakhir Yesus dengan 13 murid-muridnya sebelum ia dikhianati dan disalib. 

( Dalam buku fiksi Dan Brown yang sangat terkenal, "The Da Vinci Code" (2003), lukisan The Last Supper, dikatakan mengandung misteri terbesar dalam sejarah umat Kristen yang dijaga ketat, bahkan dengan nyawa para pelindungnya selama beribu-ribu tahun ). 

Leonardo banyak menghasilkan karya seni dan berbagai desain yang menakjubkan lainnya sebelum meninggal pada 2 Mei 1519. Hingga sekarang, bahkan Einstein dan Isaac Newton pun dianggap tidak sanggup menyamai kegeniusan Leonardo da Vinci. 

ref : http://id.wikipedia.org/wiki/Leonardo_da_Vinci 
http://imperiumindonesia.blogspot.com/2007/11/biografi-leonardo-da-vinci.html 

Saturday, March 22, 2014

JAKARTA

Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta, Jakarta Raya) adalah ibu kota negaraIndonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkatprovinsi. Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa. Dahulu pernah dikenal dengan nama Sunda Kelapa (sebelum 1527), Jayakarta (1527-1619), Batavia, atau Jacatra (1619-1942), dan Djakarta (1942-1972).
Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km² (lautan : 6.977,5 km²), dengan penduduk berjumlah 7.552.444 jiwa (2007),Wilayah metropolitan Jakarta (Jabotabek) yang berpenduduk sekitar 23 juta jiwa, merupakan metropolitan terbesar di Indonesia atau urutan keenam dunia.
Geografi
Jakarta berlokasi di sebelah utara Pulau Jawa, di muara Ci LiwungTeluk Jakarta. Jakarta terletak di dataran rendah pada ketinggian rata-rata 8 meter.Hal ini mengakibatkan Jakarta sering dilanda banjir. Sebelah selatan Jakarta merupakan daerah pegunungan dengan curah hujan tinggi. Jakarta dilewati oleh 13 sungai yang semuanya bermuara ke Teluk Jakarta. Sungai yang terpenting ialah Ci Liwung, yang membelah kota menjadi dua. Sebelah timur dan selatan Jakarta berbatasan dengan provinsi Jawa Barat dan di sebelah barat berbatasan dengan provinsi Banten.
Kepulauan Seribu merupakan kabupaten administratif yang terletak di Teluk Jakarta. Sekitar 105 pulau terletak sejauh 45 km (28 mil) sebelah utara kota.
Ikilm
Jakarta memiliki suhu udara yang panas dan kering atau beriklim tropis. Terletak di bagian barat Indonesia, Jakarta mengalami puncak musim penghujan pada bulan Januari dan Februari dengan rata-rata curah hujan 350 milimeter dengan suhu rata-rata 27 °C. Curah hujan antara bulan Januari dan awal Februari sangat tinggi, pada saat itulah Jakarta dilanda banjir setiap tahunnya, dan puncak musim kemarau pada bulan Agustus dengan rata-rata curah hujan 60 milimeter . Bulan September dan awal oktober adalah hari-hari yang sangat panas di Jakata, suhu udara dapat mencapai 40 °C . Suhu rata-rata tahunan berkisar antara 25°-38 °C (77°-100 °F).






EKonomi
Wisma 46, gedung perkantoran tertinggi di Indonesia, terletak di tengah-tengah pencakar langit Jakarta.
Selain sebagai pusat pemerintahan, Jakarta juga merupakan pusat bisnis dan keuangan. Di samping Bank Indonesia dan Bursa Efek Indonesia, kantor-kantor pusat perusahaan nasional banyak berlokasi di Jakarta. Saat ini, lebih dari 70% uang negara, beredar di Jakarta.
Jakarta merupakan salah satu kota di Asia dengan masyarakat kelas menengah cukup besar. Pada tahun 2009, 13% masyarakat Jakarta berpenghasilan di atas US$ 10.000.Jumlah ini, menempatkan Jakarta sejajar dengan SingapuraShanghai, dan Mumbai.
Bahasa
Jakarta merupakan daerah tujuan urbanisasi berbagai ras di dunia dan berbagai suku bangsa di Indonesia, untuk itu diperlukan bahasa komunikasi yang biasa digunakan dalam perdagangan pada masa lampau yaitu bahasa Melayu. Penduduk asli yang berbahasa Sunda pun akhirnya menggunakan bahasa Melayu tersebut.
Kependudukan
Jumlah penduduk Jakarta sekitar 7.512.323 (2006), namun pada siang hari, angka tersebut akan bertambah seiring datangnya para pekerja dari kota satelit seperti BekasiTangerangBogor, dan Depok. Kota/kabupaten yang paling padat penduduknya adalah Jakarta Timur dengan 2.131.341 penduduk, sementara Kepulauan Seribu adalah kabupaten dengan paling sedikit penduduk, yaitu 19.545 jiwa.

Agama
Grafik pembagian relatif kaum beragama di Jakarta pada tahun 2005.Agama yang dianut oleh penduduk DKI Jakarta beragam.Menurut data pemerintah DKI pada tahun 2005, komposisi penganut agama di kota ini adalah sebagai berikut:
Islam 84,4%
Katolik 5,7 %
Hindu 1,2 %
Buddha 3,5 %





Pemerintahan                              
Dasar hukum bagi DKI Jakarta adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2007, tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. UU ini menggantikan UU Nomor 34 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Negara Republik Indonesia Jakarta serta UU Nomor 11 Tahun 1990 tentang Susunan Pemerintahan Daerah Khusus Ibu kota Negara Republik Indonesia Jakarta yang keduanya tidak berlaku lagi.
Jakarta berstatus setingkat provinsi dan dipimpin oleh seorang gubernur. Berbeda dengan provinsi lainnya, Jakarta hanya memiliki pembagian di bawahnya berupa kota administratif dan kabupaten administratif, yang berarti tidak memiliki perwakilan rakyat tersendiri. Dengan demikian, DKI Jakarta hanya memiliki DPRD Provinsi dan tidak memiliki DPRD Kabupaten/Kota.

Jakarta juga terkenal juga dengan banjir dan kemacetannya.mungkin dikota tercinta Jakarta sudah terlalu banyak penduduk jadi kotayang duluan indah dan asri sekarang sudah mulai kumuh dan sampah dimana-dimana ,asap kendaraan yang mengepul ,save Jakarta save ibukota



Koran Kompas

cara-cara berfikir deduktif dan induktif

Berpikir Deduktif
Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikankesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum. Deduksi adalah cara berpikir yang di tangkap atau di ambil dari pernyataan yang bersifat umum lalu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus.
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Berpikir Induktif
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum. Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum(filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005)
Berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. (www.id.wikipedia.com)
Jalan induksi mengambil jalan tengah, yakni di antara jalan yang memeriksa cuma satu bukti saja dan jalan yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya satu persatu. Induksi mengandaikan, bahwa karena beberapa (tiada semuanya) di antara bukti yang diperiksanya itu benar, maka sekalian bukti lain yang sekawan, sekelas dengan dia benar pula.
Jenis penalaran deduktif  yaitu:
-Silogisme Kategorial = Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
-Silogisme Hipotesis = Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi     konditional hipotesis.
-Silogisme Akternatif = Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.
-Entimen = Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan gabungan dari penalaran deduktif dan induktif. Dimana lebih lanjut penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme dan penalaran induktif dengan empirisme. Secara rasional ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan antara pengetahuan yang sesuai fakta dengan yang tidak. Karena itu sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan statusnya hanyalah bersifat sementara, Penjelasan sementara ini biasanya disebut hipotesis.
Hipotesis ini pada dasarnya disusun secara deduktif dengan mengambil premis-premis dari pengetahuan ilmiah yang sudah diketahui sebelumnya, kemudian pada tahap pengujian hipotesis proses induksi mulai memegang peranan di mana dikumpulkan fakta-fakta empiris untuk menilai apakah suatu hipotesis di dukung fakta atau tidak. Sehingga kemudian hipotesis tersebut dapat diterima atau ditolak.
Ada 3 macam penalaran Induktif :
1. Generalisasi
    Merupakan penarikan kesimpulan umum dari pernyataan atau data-data yang ada.
Dibagi menjadi 2 :
a. Generalisasi Sempurna / Tanpa loncatan induktif 
    Fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan.
    Contoh :
       - Sensus Penduduk.
       - Jika dipanaskan, besi memuai.
         Jika dipanaskan, baja memuai.
         Jika dipanaskan, tembaga memuai.
         Jadi, jika dipanaskan semua logam akan memuai.
b. Generalisasi Tidak Sempurna / Dengan loncatan induktif
    Fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada.
Contoh :
Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong.

2. Analogi
    Merupakan penarikan kesimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Pada analogi biasanya membandingkan 2 hal yang memiliki karakteristik berbeda namun dicari persamaan yang ada di tiap bagiannya.
 Tujuan dari analogi :
    - Meramalkan kesamaan.
    - Mengelompokkan klasifikasi.
    - Menyingkapkan kekeliruan.
Contoh :
Ronaldo adalah pesepak bola.
Ronaldo berbakat bermain bola.
Ronaldo adalah pemain real madrid.
  
3. Kausal
    Merupakan proses penarikan kesimpulan dengan prinsip sebab-akibat.
    Terdiri dari 3 pola, yaitu :
a. Sebab ke akibat = Dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat ke kesimpulan sebagai efek.
Contoh : Karena terjatuh di tangga, Kibum harus beristirahat selama 6 bulan.
b. Akibat ke sebab = Dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat ke kejadian yang dianggap penyebabnya.
Contoh : Jari kelingking Leeteuk patah karena memukul papan itu.
c. Akibat ke akibat = Dari satu akibat ke akibat lainnya tanpa menyebutkan penyebabnya.

Maka dapat disimpulkan bahwa penalaran deduktif dan penalaran induktif diperlukan dalam proses pencarian pengetahuan yang benar.


Silogisme Kategorial, Hipotesis, Alternatif , dan Silogisme Entimem


Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.

Silogisme kategorial terjadi dari tiga proposisi, yaitu:
Premis umum : Premis Mayor (My)
Premis khusus :Premis Minor (Mn)
Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K)
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.
Contoh:
Contoh silogisme Kategorial:
My : Semua mahasiswa adalah lulusan SMA
Mn : Bustomi adalah mahasiswa
K     : Bustomi lulusan MA

My : Tidak ada manusia yang abadi
Mn : Socrates adalah manusia
K     : Socrates tidak abadi

My : Semua pelajar  memiliki buku tulis.
Mn : Firman tidak memiliki buku tulis
K     : Firman bukan pelajar


 Silogisme Hipotesis
Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
Konditional hipotesis yaitu, bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
Contoh :
My : Jika tidak ada udara, makhluk hidup akan mati.
Mn : Udara tidak ada.
K     : Jadi, Makhluk hidup akan mati.

My : Jika tidak ada udara, makhluk hidup akan mati.
Mn : Makhluk hidup itu mati.
K : Makhluk hidup itu tidak mendapat udara.

Silogisme Alternatif
Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.
Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya.  Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.

Contoh
My : Mirzal berada di Lenteng Agung atau Depok.
Mn : Mirzal berada di Lenteng Agung.
K     : Jadi, Mirzal tidak berada di Depok.



My : Mirzal berada di Lenteng Agung  atau Depok.
Mn : Mmirzal tidak berada di Depok.
K     : Jadi, Mirzal berada di Lenteng Agung.

Silogisme Entimem
Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

Contoh:
- Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam kuis itu.
- Anda telah memenangkan kuis ini, karena itu Anda berhak menerima hadiahnya.


sumber : http://wikipedia.com